Kekosongan

Originally posted on Light and Life:

Dalam hati kecil ini, ada sebuah perasaan yang meminta untuk di bebaskan.
Namun aku memilih untuk mengabaikannya, meskipun itu membuat diriku merasakan lebih banyak sakit lagi.
Perasaan itu meminta untuk diakui juga.
Namun aku memilih untuk menutup mata dari perasaan itu.
Aku hanya menganggap bahwa perasaan itu hanyalah suatu perasaan bodoh. Perasaan yang seharusnya tidak pernah di rasakan oleh seorang aku yang seperti ini.
Namun ternyata perasaan yang terabaikan itu mulai berbalik menyerangku. Memberiku rasa sakit..
Meskipun begitu,
Aku tetap pada pendirianku.
Aku tidak akan pernah mengakui perasaan itu. Entah sampai kapan.

View original


aku tak mengerti dengan seseorang yang mencintai orang lain saat dia menjalin hubungan dengan seseorang. bukankah ketika kita memilih untuk berhubungan dengan seseorang, kita sudah memilih orang yang terbaik untuk kita? bukankah orang yang tepat untuk kita adalah seseorang yang membuat kita lebih baik dan….. berhenti mencari?

Tugas Ini Membunuhku

ini sambungan dari postingan kemarin. ini tentang aku dan dia. iya, TUGAS.

terlalu banyak tugas di semester 5 ini. begadang sampe nggak tidur itu biasa. tidur pagi juga biasa. yang nggak biasa itu tidur nyenyak tanpa ada beban tugas dan mimpi tentang tugas. itu NIGHTMARE namanya.

aku seperti berubah wujud jadi kelelawar. tugas berserakan dimana. heboh sana heboh sini. kamar jadi berasa kapal pecah. dan tugas pun tidak terselesaikan dengan baik. aku nggak tau, ini gara-gara aku yang males ngerjain, atau aku yang ngerjainnya lelet atau emang tugasnya yang nggak bisa selow? kayanya sih gara-gara tugasnya *belain diri sendiri* ._.

berasa banget semester 5 itu semester ancur ancuran. mulai dari pengumpulan tugas pertama sampe yang barusan dikumpul, semuanya nggak maksimal. sebenernya sih bikinnya juga nggak pernah maksimal tapi ini yang paling nggak maksimal. bisa gilaaaaa, berhari-hari dikamar sampe nggak liat matahari. berasa malem ketemu malem. hidup jadi berasa suram nggak liat matahari hahahaha lebaaaay. mulai dari yang nggak tau hari, nggak tau tanggal, nggak tau bulan sampe nggak tau tahun. gokil abis. tapi ini bener. ini serius. *serius

yang lebih gokilnya lagi, tiap kali ditanyain temen kalo nggak pacar, mesti jawabannya, “ini nih, lagi ngeladenin selingkuhan.” kalo nggak, “aku lagi bercinta sama tugas.” selalu, jawabannya tentang tugas. sampe mereka bosen dengernya dan mereka nggak pernah nanyain aku lagi ngapain lagi. okesip.

tiap kali ngeluh sama temen yang bukan se-jurusan, aku selalu bilang gini, “aku harus gimanaaaa!! dia dateng nggak tepat waktu! maunya dijamah terus! acara mainku jadi keteteran! bla bla bla.” dan jawaban dia hanya, “kamu kudu semangat.” udah. gitu aja. simpel. dan rasanya pengen bacok dia.

tapi ya, emang bener sih orang yang jarang tidur itu jadi susah ngendaliin emosi. kalo lagi jatah deadline mesti pada sensi. nanya tugas aja udah langsung disemprot, “apaan sih. jangan nanya tugas deh. gue juga belom!”. senggol dikit marah, dikit dikit marah. mata sembeb semua, item pula. apalah ini -______-

tapi berita baiknya, HOLIDAY!! aku udah libur hahahaha ujian cuman 2 mata kuliah. itu pun senin sama selasa. rasanya free bangeeeet. akhirnya bisa hibernasi, menikmati tidur tanpa mimpi tugas hahahah. buat yang belum ujian, KAMU KUDU SEMANGAT! :D

Apalah Ini -_-

ini sepertinya nasib jadi angkatan tua. tugas kayanya juga makin menjadi-jadi. lembur sampai pagi, minum kopi, dengerin musik sampai bosen. hidup macam apa iniiiiiii! -______-

kalo kata orang tua, makin tinggi kelas, makin gampang ngerjain tugas. istilahnya sih, udah pernah diajarin dosen dan seharusnya kita nerapin ajarannya ke tugas-tugas kelas berikutnya. tapi apalah daya tiap masuk kelas nggak pernah dengerin dosen malah mainan game Pokopang -_- kelakuan dikelas kalo nggak ngegame, coret-coret lembar paling belakang, ngobrol, online, telat masuk, kalo nggak ya tidur dikelas. sepertinya saya sebagai mahasiswa merasa gagal, tapi itu menyenangkan hahahahaha

satu masalah lagi sih, semakin jadi angkatan tua, semakin males nyatet. dan tiap mau ujian pasti kelabakan pinjem catetan temen. dibela-belain ujan-ujanan cuman buat fotokopi materi doang *iya, itu kalo ujan* ._. kalo males fotokopi, materinya di foto. pas ujian dimulai-liat soal-nggak ngerti-mantengin soal doang-nunggu temen kelar- nyontek. simpel. mahasiswa macam apa ini -_- tapiiiii…. ini pengecualian. kalo misal temen lagi nggak berbaik hati, dan si penjaga juga lagi ada mood jelek, siklusnya jadi seperti ini: ujian dimulai-liat soal-dipantengin-dibaca pelan pelan-nggak ngerti-bunuh diri.

gatau kenapa, tiap kali naik semester rasanya makin males ngerjain tugas. apalagi jurusan arsitektur. tugas besar semua, deadline antar mata kuliah juga mepet-mepet. kalo aja leptopnya smart, bisa kali ya ngerjain tugas sendiri tanpa disentuh. *khayalan.

ngomongin soal leptop, ini kayanya lama-lama leptopku bakal kebakar kali ya. dia cuman istirahat berapa jam doang. kalo aku ketiduran, leptopnya yang mantengin aku. kan kasian, dia nggak smart sih, nggak bisa mati sendiri ._. 

ah, ya gitu. intinya sih makin jadi angkatan tua, makin jadi orang paling sibuk sampe-sampe nggak sempet mandi, makan, beres-beres. idup cuman mantengin leptop sama tidur doang. arsitek bisa tidur itu udah bersyukur apalagi kalo tidur nggak mikirin tugas. surgaaaaaa~

aku berharap, pengen cepet lulus. capek begadang mulu -_- semangat rep!

Aku terlalu sibuk melihatnya, seseorang yang kupuja setahun ini. Dia teman sekelasku di kampus. Sosok yang sempurna untuk melengkapi hidupku.

Aku masih setia duduk di depan kelas, rasanya tak ingin menolehkan pandanganku darinya. Sembari tertunduk jika aku tertangkap basah melihatnya. Ini menyenangkan, Im happy do this.

Aku menyukainya sejak semester 3 lalu. Tak seorangpun tau tentang ini, masih enggan untuk menceritakan rasa suka ku, bahkan pada teman dekatku sendiri.

Dia sosok yang mudah disukai orang. Mungkin karena dia tampan, mungkin juga karena easy going. Tapi aku menyukainya bukan karena dua alasan itu. Aku menyukainya karena dia pernah merangkulku. Simpel memang, dan terlihat bodoh. Tapi memang begitu keadaannya. Ini juga salah satu alasan mengapa aku enggan untuk menceritakan pada teman-temanku. Aku malu.

Entah, mengapa aku terlalu berharap padanya. Padahal sudah jelas-jelas aku bukan orang yang ada dalam bayangannya untuk dijadikan seorang pendamping. Aku bukan apa-apa, tapi aku masih ingin berharap padanya. Berharap suatu saat dia sadar ada aku yang tulus dengannya.

Tapi, apakah dia melihatku? Mengerti bahwa aku sedang menunggunya? it’s impossible. Aku bukan Cinderella yang layak untuk dipandangi dan dimiliki. Aku bukan seorang putri yang dikenal banyak orang dan juga disegani. Aku? Tak ada apa-apanya. Aku hanya manusia biasa, dari keluarga biasa.

aku yakin orang sepertimu pasti sedang suka dengan orang lain. aku yakin orang sepertimu menyukai seseorang yang spesial. an benar semua dugaanku. kamu sedang mendekati teman sekelas. aku hanya bisa menertawai diriku sendiri. betapa bodohnya aku terlalu berharap padamu. apalagi seseorang yang kamu sukai itu cantik, rajin. aku? lagi-lagi aku menertawai diriku sendiri. sakit, tapi mau bagaimana lagi. salahku memang, aku tak ada usaha untuk mendekatimu. aku hanya bisa melihatmu saja. aku terlalu pecundang untuk urusan ini. ya, aku terlalu gengsi untuk mendekatimu dulu. menyedihkan.

aku menangisinya semalam. bahkan ibuku bertanya mengapa aku menangis. dan jawabanku hanya tersenyum. ah, ini menyakitkan, seseorang yang sudah aku sukai sejak lama dan akhirnya sekarang dia memutuskan untuk bersama orang lain.

aku berjalan gontai menuju ruang kelas, dan tak sengaja aku mendengarnya berbicara dengan teman dekatnya. dia bingung dengan posisinya. seseorang yang dia sukai itu sudah disukai lebih dulu dengan temannya. dia merasa tidak enak jika dia terus mendekatinya dengan keadaan seperti ini. lagipula mereka berbeda keyakinan. terlalu berat untuknya. tiba-tiba dia berkata, “mungkin aku akan menyerah demi kebahagiaan temanku. lagipula aku juga tak tau seseorang itu menyukaiku atau tidak. aku juga tak tau dia menganggapku spesial atau tidak. aku mencoba untuk mengiyakan keadaan ini. membiarkan mereka bahagia. mereka bahagia, aku juga bahagia. mereka berdua sama spesialnya untukku, tak mungkin aku mengkhianati mereka.”. aku terkejut dengan perkataannya. dia begitu rela, sedangkan hatinya tak mengijinkan untuk itu.

aku malu dengan diriku sendiri. aku tak pernah rela kalau dia memutuskan untuk bersama seseorang lain selain aku. aku ingin berhenti menyukainya, tapi aku tak bisa. hatiku selalu memberontak jika aku memutuskan untuk berhenti berharap padanya.

selang waktu yang lama, aku mendapat kabar lagi kalau dia sudah bersama yang lain. bukan orang yang dulu dia sukai. seseorang yang sekarang adalah adik angkatanku. dia cantik, berkerudung, dia juga pintar. ah sudahlah, mungkin ini akhir dari penantianku. tak banyak yang bisa aku lakukan kecuali merelakannya, mendoakan dia bahagia bersama pilihannya. menyakitkan memang, tapi aku ingin belajar merelakan seperti cara dia merelakan seseorang yang dulu pernah dia sukai. aku bahagia jika dia bahagia. melihatnya tersenyum saja aku sudah lega, walaupun bukan aku alasan untuk dia tersenyum. aku akan terus mencoba tegar, selalu tersenyum walaupun aku tersenyum menahan sakit. aku tersenyum dalam luka yang tak satupun orang tau. ini akhir, dan aku yang mengakhirinya.