Featured Image -- 697
Gallery

Ironi Pelangi di Indonesia

#ASSA

5c9e6093fae06a61fcc2fb2f68d47ff4 Salah satu statement pendukung LGBT.

Oleh : Assa Dullah Rouf, Mahasiswa Strata Satu Univ. Al-Azhar, Kairo.
Dipresentasikan untuk kajian ISLAMMU Mesir, 4 Maret 2016

Diawal tahun 2016 disaat sedang enak-enaknya menyiapkan diri merancang perencanaan hidup ditahun ini tiba-tiba kita digemparkan (emang bom apa? :D) dengan sebuah isu baru yang menyeruak di bumi pertiwi Indonesia, ya dan itu adalah permasalahan pelegalan LGBT di Indonesia. Saya tidak terlalu tahu mengenai hal ini kenapa bisa menjadi sebuah viral di Indonesia, dengar-dengar kabar karena seorang Perdana Menteri di Luxemburg (Luxemburg juga telah mensahkan LGBT dinegaranya), Xavier Bettel yang mengakui dirinya sebagai penyukai sesama jenis, wallahua’lam. Bisa dibaca di sini

Ngomong-ngomong masalah LGBT di Indonesia, yang notabene masyarakatnya beragama Islam pastilah menolak dengan yang namanya isu LGBT. LGBT adalah empat huruf awalan dari Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender. Jadi jelas, dengan mendengar dua kata diawal saja para pembaca sudah dibuat muntah darah…

View original post 1,311 more words

KITA

6051fe5fae90d368eb75da2b743dbb5c

terkadang aku hanya butuh rindu untuk selalu mengingatmu. kadang aku hanya butuh kau merindukanku untuk aku merasa tak diabaikan.

tak perlu kau bersusah karena aku selalu ada. disetiap apa yang kau butuhkan, kapan, atau apapun itu. tak perlu kau merasa sepi, saat kau ada banyak waktu, aku siap untuk menemanimu.

tentang mana pula yang kau tak indahkan saat semua yang indah nyaris tak berarti apa apa. tentang yang harus kita mengerti hanya jadi kekosongan.

saat apa yang kau tanyakan “apa yang kau tak mengerti, bahkan semua kau ketahui”. bukan itu. aku hanya ingin kita saling bercakap bukan aku yang mencari tau. hanya ingin kita banyak bercerita bukan aku yang banyak bertanya. hanya ingin kita menjadi pasangan yang menyenangkan bukan yang selalu bermasalah.

mungkin selama ini aku banyak meminta. yang kau tak bisa lakukan menjadi sesuatu yang harus kau lakukan. aku hanya ingin kita baik baik saja. jika aku diam dan membuatmu merasa lebih baik, akan aku lakukan.

jika kau jenuh, mungkin aku satu satunya orang yang merasa pilu.

Hanya Sebuah Handphone dan Media Sosial

Dunia itu luas. Jangan kau persempit menjadi sebuah layar kecil, handphone.

Setiap pasangan pasti melakukan kontak melalui handphone. Apalagi untuk jaman sekarang, handphone sangat penting. Semua orang mulai terbius oleh kecanggihan aplikasinya. Bahkan untuk mengetahui keadaan seseorang, kita hanya perlu melihat status di timelinenya. Dalam jangka waktu hanya beberapa menit saja kita sudah tau kabar seseorang tanpa harus menunggu sebuah pertemuan, kita bisa tau dengan siapa dia bersanding, lebih mudah mengetahui perselingkuhan, semua serba mudah.

Untukku, handphone merupakan suatu keharusan. Setiap detik mengecek, seolah ada yang menghubungi-nyatanya tidak. Aku lebih suka membaca berita, dan menunggu kabar seseorang.

Kabar seseorang? Iya. Seseorang yang selalu ku tunggu, dan kuharap dia menghubungiku. Seseorang yang penting untukku. Seolah tidak ingin ku lewatkan hari tanpanya. Tapi entah dengan apa yang dia rasakan. Hati seseorang siapa yang tau? Yang kubisa hanya mengecek apa yang dia lakukan saat dia tak bersamaku. Dengan handphone dan media sosial.

Mungkin aku yang terlalu mendewakan media sosial membuatku susah menemukan teman baru untuk bermain keluar. Lebih membuatku autis hanya dengan sebuah chatting, bukan pertemuan. Mungkin aku yang seperti ini jadi malas melakukan apapun. Dan pada akhirnya aku tak punya kegiatan selain mengotak atik handphone. Karena tak punya kegiatan, aku jadi lebih sering menghubungi pacarku dan membuat pacarku marah.

Suatu ketika, handphone ku rusak, entah apa yang bermasalah. Aku jadi seperti orang gila yang merengek ‘jangan rusak’. Tak punya uang untuk servise, lengkaplah sudah. Untungnya aku punya handphone 2, tapi sayangnya yang satu hanya bisa untuk sms. Seperti ada yang kurang memang, tak bisa membuka instagram, bbm, line, wasap dll.

Pada fase yang benar-benar jenuh, aku mengajak temanku keluar, nongkrong-kegiatan yang dulu rutin ku lakukan tiap malam minggunya. Cerita sana sini, curhat tentang apapun, semua terasa menyenangkan. Tiba-tiba temanku berkata,

‘haha untuk apa kau bersedih hanya karena handphone. Memang rasanya ada yang kurang, tapi kan kau masih bisa sms. Apa yang harus dipusingkan, toh datamu juga di memori eksternal. Sudahlah, dunia luas, men. Jangan dipusingkan karena tak bisa asik-asikan dengan media sosial. Kau  mau jadi anak hits yang tidak lepas dari medsos? Cek-in sana sini, upload ini itu, bikin status gonta ganti dp. Alaaaah.. santai laaah.. Jangan persempit duniamu menjadi sebuah layar kecil, handphone. Lebih baik kau pergi kemanapun kau mau, lakukan sesuatu yang membuatku senang. Memangnya di akhirat nanti kau akan ditanya, ‘seberapa hits kau di dunia’? tidak kan….’

Perkataan temanku membuatku berfikir ulang. Hidup ini indah, kenapa aku tak mengindahkan duniaku untuk menjelajah manapun dan apapun yang kumau? hanya dengan medsos, sejenak duniaku terlihat kecil.

Jika Hanya Diam

4ef57687eecfca3bcbc6139dcff5e0c0

Sepanjang malam aku tak memejamkan kedua mataku. Berharap ada pesan darimu memberi kabar atau sekedar mengucapkan “night. have a nice dream”. Mungkin karena aku wanita, rasa khawatirku terlalu besar.

Sepanjang malam aku hanya terdiam memandangi handphone dan sesekali mendengarkan musik yang mengingatkanku tentangmu. Dan sepanjang malam pula tak ku dapati kamu menghubungiku sampai akhirnya aku terlelap hingga pagi. Perasaan khawatir, dan penasaran menyelimutiku. Apa susahnya menghubungiku? Untuk setidaknya mengucapkan selamat pagi? Akhirnya aku menghubungimu lebih dulu. Entah nantinya ada balasan maupun tidak, setidaknya aku sudah menghubungimu.

Terkadang aku berfikir, aku seperti terlalu mengejarmu. atau memang seperti itukah? Aku belajar untuk selalu bersikap seolah tak ada apa-apa. Aku belajar untuk selalu berfikir positif tentangmu saat kamu sama sekali tak menghubungiku. Saat itu aku hanya ingin mengingat kenangan indah kita saat bersama-sama. Namun semakin lama ku coba cari kenangan indah lebih dalam lagi, kenangan itu sudah mulai perlahan memudar. Aku tak bisa menemukannya lagi. yang difikiranku hanya pikiran-pikiran negatif. Semakin dalam ketakutanku, semakin membuat hatiku sakit. Aku hanya butuh kamu berbicara. Katakan aktivitasmu. Aku sudah tak ingin merengek lagi. Jadi tolong lihat aku, aku butuh kamu bercerita. Yang kamu katakan justru, “apa perlu aku tulis semua aktivitasku seharian ini?” atau “kau tak percaya padaku?”

Entah sejak kapan aku jadi seperti ini. Seolah kesibukanmu diselingi dengan candaan seseorang lain. Aku tak rela jika harus melihatmu tertawa dengan seseorang itu. Bukankah harusnya aku yang berada dihadapanmu saat kamu tertawa?

Pernah sesekali aku berfikir, bagian mana yang harus aku percaya darimu. Dengan hasil chat “seperti itu” kepada wanita lain. Bahkan saat aku didepanmu, kamu asyik bercanda dengan seseorang disampingmu, dan entah sengaja atau tidak dia menyentuhmu.

Aku sudah tak ingin banyak bicara. Tolong pahami aku dengan baik. Kenali aku dengan baik pula. Jika aku hanya diam, apa kamu akan mengerti?

Jika kamu masih tak mengerti, aku baik-baik saja..

.

.

.

.

.

.

.

.

Hanya hatiku yang berantakan.

 

Jika Sudah Tak Sanggup, Katakan Saja

41fdf1a9b91e04460cd8293bf5801d6f

Aku tak mengerti mengapa kau menghilang tanpa ada kabar. Aku tentu khawatir, aku bingung dan aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Mencari keberadaanmu pun itu tak cukup. Aku hanya ingin kau mengatakan yang sejujurnya.

Aku memang seperti bocah yang merengek minta ini itu. Aku bocah yang tak tau bagaimana perasaanmu. Memang egois, lalu bagaimana denganmu? Berlaku sesuka hatimu. Tak taukah kau, aku selalu menunggu, menunggu, dan menunggu. Kau bahkan tau rasanya menunggu itu bagaimana. Seharusnya kau tak memperlakukanku seperti itu.

Sebenarnya kau anggap aku apa? Kau bilang cinta dan sayang, tapi terkadang kau bersikap seperti “entah”.

Jika sudah tak sanggup denganku, katakan saja. Jika sudah muak denganku, bilang saja, Jika sudah tak mau denganku, ungkapkan saja.

.

.

.

.

Kalau bosan bilang, jangan ngilang.

 

Riuh

Aku hanya ingin mendengar deru ombak, melihatnya dihadapanku. terseret ombakpun aku tak apa-apa.

Aku hanya ingin mendengar percikan air hujan yang jatuh, mencium bau tanah basah, melihat dedaunan hijau sepanjang perjalanan.

Hanya ingin mendengar suara binatang berbisik lirih tentang nyanyian riang maupun sendu.

Aku mungkin terlihat baik-baik saja. Diam dan sesekali tersenyum pada orang-orang disekelilingku. Aku hanya menutupi semuanya. Tak ingin ku katakan apa yang ada dalam diriku.

Namun, hatiku riuh, memberontak dan meronta. “AKU TIDAK INGIN SEPERTI INI!” hatiku bergemuruh. Rasanya ingin ku muntahkan semua yang ada dalam hatiku, ingin ku teriakkan semua yang ada di otakku. tapi apa? yang kudapati hanya mulut yang tak sanggup mengatakan semuanya. Tersangkut entah kemana muntahan itu.

Tangisanpun sudah tak mampu menyelamatkanku dari rasa lega. Malah membuatku merasakan jatuh yang lebih dalam lagi. Sudah terlampau sering aku menghela nafas panjang. Dan yang sekarang bisa kulakukan hanya diam. Menikmati apa yang seharusnya sudah ditakdirkan. Tidak menutup kemungkinan, bahwa suatu saat aku pasti ikhlas dan bersyukur dengan keadaan yang membawaku menjadi seseorang yang jauh lebih baik lagi.

Aku hanya butuh waktu untuk meredakan riuhnya hatiku dari ketidakadilan dan pemberontakan otak.

 

Sudahkah Anda Bersyukur?

098918700_1419064168-eclipsoluna1

Suasana pagi itu begitu ramai. Berkumpul di pusat keramaian, menanti gerhana itu datang. Menunggu gelap, bersiap pesta menyambut fenomena sekali seumur hidup. Ada yang membawa anak, sanak saudara, bahkan teman dekat, bersiap dengan kamera ponsel mengabadikan momen yang ditunggu-tunggu.

Ketika gerhana itu datang, orang-orang mulai ramai berbicara. Berdecak kagum dan antusias melihat gelap di pagi hari. Mereka mulai mengeluarkan sesuatu dari saku, ada yang kecil dan ada juga yang besar. Semua orang begitu bahagia, melihat kegelapan total di pagi hari.

30 menit berlalu. Mereka sudah mulai kehabisan gaya untuk foto. Langit masih gelap. Sebagian orang sudah memasukkan ponsel kedalam saku.

2 jam berlalu. Kebisingan itu mulai berkurang, tidak seperti dua jam lalu. Ada yang memilih mencari sarapan, ada juga yang berjalan menikmati jajanan.

3 jam berlalu. Orang-orang mulai bertanya, mengapa matahari tak kunjung muncul? Mereka mulai membuka ponselnya, mencari berita, sambil menikmati sisa jajanan di keramaian kota. Sebagian orang mulai pulang, melanjutkan aktivitas.

10 jam berlalu. Matahari tak kunjung datang. Fenomena aneh yang tidak sesuai prediksi ini menjadi headline berita. Beragam spekulasi bermunculan. Dari ki joki pinter, ki kosumo, sampai ki ayi juga ambil bagian, intinya sama, “ini fenomena aneh”.

Sudah petang, tetap gelap. Masjid jadi ramai, bahkan marbot masjid harus menyediakan karpet tambahan. Digelarlah pengajian dadakan.

Sampai malam tiba, orang-orang berharap cemas. Ada yang tidak bisa tidur, ada yang tidak ingin tidur, menunggu fajar datang menyambut pagi.

Pagi yang dinanti itu tiba. Matahari itu tak kunjung nampak. Ahli-ahli di dunia mulai membuat studi, menerka-nerka apa yang terjadi.

Orang-orang mulai menangis, takut, karena matahari tak kembali. Yang ketika matahari pergi, mereka menyambutnya riang gembira.

Suasana jadi tidak stabil, tempat ibadah langsung disesaki umat manusia, orang kaya jadi dermawan. Lembaga amal, panti sosial, rumah zakat kebanjiran sumbangan. Orang-orang miskin jadi kenyang, anak jalanan diadopsi, pengemis dipekerjakan.

Gencatan senjata terjadi dimana-mana. Isral menyatakan damai dengan Palestina, Korea Utara menghentikan proyek Nuklir, Turki-Rusia membuat nota perdamaian, ISIS mulai buat pengajian dadakan. Dunia damai, tentram, bersatu.

Tempo hari ritual terus dilakukan. Tidak ada yang debat agama, debat kitab, atau mempertanyakan tuhan. Mereka bersatu, meminta matahari pada tuhannya masing-masing. Tidak adalagi hate-speech di sosial media, semua rukun, bersatu meminta matahari.

Sampai tiba pada hari ke-7. Kali ini ada yang berbeda. Ditengah isak tangis orang berdoa menunggu fajar tiba, ditengah ritual-ritual umat meminta matahari, mulai terjadi sedikit keajaiban. Matahari itu muncul. Ada yang menyambutnya dengan tangis haru, tangis bahagia. Tapi ada juga yang menangis sejadi-jadinya, karena matahari itu terbit dari ufuk yang berbeda.

Sudahkah anda bersyukur?

source: Ahmadin Syahputra