Jalan Cinta-

Ada kalanya aku berada di jalan setapak kecil dan sempit. Ada kalanya aku berada dijalan lebar dan ramai orang berlalu lalang dan penuh rintangan. Ada kalanya aku berada di jalan yang nyaman untuk dijalani. Dan ada kalanya aku berada di persimpangan jalan.

Hidup tak semudah menjentikkan kuku. Banyak yang dihadapi, banyak yang diperhatikan, banyak yang memuji, banyak pula yang mencaci.

Hidup tak seindah gunung merbabu. Dari jauh terlihat indah, dari dekat penuh bebatuan. Kebanyakan orang, terlihat bahagia diluar tapi meronta didalam. Tentang perasaan, tentang cinta.

Terkadang, aku tak bisa membedakan seseorang yang benar mencintaiku dengan seseorang yang hanya sementara.
Terkadang, seseorang yang mencintaiku adalah seseorang yang tak mengatakan cintanya karena dia takut aku akan memberi jarak dengannya sampai suatu saat dia pergi dan aku baru menyadari bahwa aku kehilangan cinta yang tak pernah aku sadari.

Dan suatu ketika, saat aku berada di persimpangan jalan, yang aku ingin hanya menemukan titik temu. Untuk melihatmu dan untuk sekedar bertegur sapa. Diantara pilihan, aku ingin mengikutimu sampai pada titik jalan lemahmu. Aku ingin menolongmu sampai ujung jalan yang ingin kamu capai. Disisi lain, aku ingin kita berada di jalan yang berbeda untuk suatu saat dipertemukan lagi dengan keadaan yang lebih baik.

-Ini Tentang Malam dan Ini Tentang Kamu-

Malam ini mengingatkanku pada malam saat aku bertemu denganmu

Aku suka berjalan sendiri dikeramaian. Melihat banyak orang dengan kebiasaan dan tingkah mereka. Yang pergi berdua maupun yang beramai-ramai.

Aku ingin seperti mereka, berjalan beriringan dengan seseorang yang mereka cintai. Bergandengan tangan, bercerita sepanjang jalan dan menikmati ramainya kota dengan lampu lampu yang indah.

Tapi malam ini aku sendiri, dan selalu sendiri. Aku tak punya seseorang yang spesial sampai suatu ketika aku bertemu dengan lelaki yang membuatku terdiam lama menatapnya.

Jauh di ujung jalan sana, sendiri. Menikmati makanan yang baru saja dia beli. Menghabiskan beberapa tusuk baso bakar sambil menikmati angin malam.

Aku berada di tempat yang indah, dekat dengan danau yang di modif menjadi tempat bercengkerama. Aahh, dia masih membuatku terpana. Bahkan aku jadi tak menikmati indahnya kota hanya karena dia. Dia lebih indah.

Sesekali dia menoleh ke arahku. Sepertinya dia tau bahwa aku orang yang dari tadi menatapnya.

Aku tak ingin berbicara dengannya, hanya melihatnya saja aku sudah senang. Aku tak punya nyali untuk menatapnya.

Tapi kemudian dia berjalan kearahku. Ingin rasanya aku berlari dan bersembunyi. Aku tak sanggup menahan detak ini. Aku tak tau harus bersikap bagaimana, harus memasang wajah seperti apa. Aku bingung.

Sesekali aku melihatnya memastikan sampai mana dia berjalan. Tapi tak lama kemudian, ada seseorang yang menghampirinya dan menggandeng tangannya dari belakang. Cantik.

Saat itu hatiku yang tadinya berdegup kencang tiba-tiba tersendat dengan nafasku yang tersendat pula. Aku menghela nafas panjang. Entahlah.

Aku melihatnya sekali lagi, dia terlihat bahagia bersama seseorang di sampingnya. Dia mengusap rambutnya, menyibaknya kesamping.

Sudahlah, dia hanyalah masa laluku. Dan aku tak ingin mengusiknya dan mengingatkannya dengan sejuta kebodohan yang telah aku perbuat saat itu. Aku bodoh telah memiliki dia yang sempurna, dan aku lebih bodoh karena aku menyakitinya.

Lebih baik aku pergi dari tempat ini. Aku tak sanggup melihatnya. Aku berjalan ringan. Aku tak menatap sekitar, yang aku lihat hanya jalan yang aku tapaki. Malam ini terlalu indah untuk aku pandang berkali kali. Aku menatap langit, penuh lampion berterbangan. Mengingatkanku pada setiap kenangan manis.

Aku berhenti. Dan tersenyum kecil. Malam ini indah karena telah kudapati kamu bahagia, walaupun bukan bersamaku..

Dress Coded: An Education on (unnecessary) Sexualization

Originally posted on Sophieologie:

dress-coded-1

When one Illinois middle school cluelessly decided to ban leggings & yoga pants because they were “distracting to the boys”, they probably didn’t have any idea it would be the catalyst to a national conversation about dress codes in school.

I mean, dress codes are like, so un-controversial. Until now.

Now, all sorts of interesting stories are surfacing. Girls wearing the same regulation gym outfits, but the curvier ones are getting dress-coded. Tall girls getting dress-coded for short garments, even though they’re finger-tip length, while short girls seem to not draw the same leg-bearing ire. One girl getting sent home from prom for wearing pants. Another girl was sent home from her homeschool prom because male chaperons said her dress was “causing impure thoughts”…for the teenage boys, of course.

So… Many interesting stories indeed.

The leggings ban irked me immediately for two reasons. The first…

View original 1,033 more words

Penikmat Senja

Aku penikmat senja, dengan syair syair lagu beralunan gitar akustik
Aku penikmat senja, dengan tatapan hangat melihat matahari merah
Aku penikmat senja, dengan angin menerpa tubuhku ringan
Aku penikmat senja, dengan menanti pujaan hati yang tak kunjung datang.
Berjalan untuk menemukanmu. Bersenandung lirik dalam sepi

“Kucari kamu dalam setiap langkah dalam ragu yang membisu”

Tak tau jalan mana yang harus kupilih saat dipersimpangan. Senja ini masih kunikmati. Bermandikan sejuta cahaya merah.

Hay senja, katakan padanya aku merindukannya.
Masih tak kudapati kamu saat aku pilih jalan bercabang lima menit lalu.
Senja yang mulai hilang. Lonceng yang berdentang ringan saat angin menerpa.
Senja yang mulai hilang, memudar hitam. Seketika itu aku menemukanmu. Pilu. Melihatmu dengan seseorang. Rindu ini lara.
Aku kembali dengan hati memerah darah.
Kamu penikmat senja dengan seseorang disampingmu, yang bukan aku.

Apa Arti Kamu Jika Tak Ada Aku -

Jaman sekarang, lagi marak maraknya “galau”. Dikit dikit galau. Ga makan, galau. Ga mandi, galau. Ga boker, lebih galau. Apalah ini. Galau bikin orang lebih banyakan sedih ketimbang seneng.

Gue ngomong begini bukan berarti gue ga pernah galau. Pernah, tapi ngga sampe berlarut-larut. Ngerasa salah? Iya. Menyesal? Iya. Tapi untungnya gue ngga pernah self injury. Nyakitin diri sendiri. Galau sakit, ditambah self injury, tambah sakit lagi.

Gue pernah ngga dianggep sama orang yang gue sayang, gue pernah diselingkuhin, gue pernah diboongin, gue pernah dimaki maki sama pacar gue sendiri. Yang lebih sakit lagi, ditinggiin abis itu dibikin down banget. Rasanya kaya orang yang lagi bahagia naik parasut, tiba tiba talinya putus, dan jatuh. Itu.

Dan bodohnya gueeeeeee, gue masih memohon biar bisa memperbaiki hubungan. Lebih bodohnya lagi, dia yang salah tapi sok sok jadi korban. Lah guenya korban tapi malah yang jadi tersangka. Kan anjir.

Gue ngemis ngemis sama orang yang salah. Temen gue udah bilang, “lo bego? Orang jelas jelas dia yang salah masih aja dibelain, dipertahanin.” dengan polosnya gue bilang, “gue sayang sama dia, gue gampang ngerasa salah..”

Iya, gue tipe orang yang gampang banget ngerasa salah. Dikit dikit ngomong, “duh.. Gimana dong.. Gue ngga enak sama dia.” dan dari sini, gue selalu dimanfaatin.

Banyak temen-temen gue yang ngebego-begoin gue. Gatau deh, ini cinta buta apa gimana. Abis, tiap kali mantan mantan gue bikin salah dan endingnya minta putus, gue selalu bilang, “salahku tu apa? Kenapa kamu gini? Aku ngga mau, aku ngga bisa kalo ngga ada kamu. Apa artinya aku tanpa kamu..”

Itu, kalimat yang bakal bikin elo kaya cewek murahan, ngemis ga jelas. Itu juga kalimat yang bikin pria bahagia, sukses bikin orang ngerasa salah, sukses bikin si pria ngerasa paling kece. Emang lo tau si cowok bakal bilang, “ni cewek ngga mau diputusin. Dia udah kecantol sama gue. Ya jelas, gue kan keren. Mana ada sih cewek yang mau pisah sama gue”. Lo ngga tau kan kalo yang lo bilang,”dia sayang sama gue” eh dibelakang elo dianya malah bilang gitu. Nyakitin bray.

Cowok banyak. Banyak yang lebih bisa ngertiin, lebih bisa nyenengin, dan lebih lebih yang lain. Cowok yang nyakitin mah sama aja nggak menghargai dirinya sendiri, wong ya cewek harusnya dihargai bukan diinjek injek.

Gue peringatin aja sih. Jangan sampe elo ngemis ngemis. Orang yang sayang sama elo, ngga akan ngebiarin elo ngemis ngemis buat diperhatiin dan dingertiin. “Terkadang, Tuhan hanya mempertemukan, bukan menyatukan”. Camkan itu. Jodoh juga ga kemana. Santai aja. Kalo nanti ada cowok minta putus, bilang aja, “aku salah apa sampai kamu minta putus? Aku nggak ngertiin kamu? Aku posesif? Kamu bosen sama aku? Mm selama ini aku ngertiin kamu. Aku posesif? Enggak, aku hanya memastikan. Itu juga buat hubungan kita. Kamu bosen sama aku? Kalo kamu sayang, kamu ngga akan bosen. Kamu yang punya masalah sama dirimu sendiri. Aku ngasih yang terbaik walaupun kadang bikin kamu marah. Aku selalu dengerin kamu, aku selalu mencoba bikin kamu seneng walaupun sebenernya aku sakit. Kalau sekarang kamu minta putus, gapapa kok. Jangan salahkan aku kalau suatu saat aku pergi dan kamu punya pacar lagi, tapi pacar kamu nggak bisa ngasih apa yg bisa nyenengin kamu, dan kamu menyesal mutusin aku, jangan cari aku lagi. Cukup itu jadi penyesalanmu aja. Ijinkan aku bilang, apa artinya kamu jika tak ada aku :)”

-Ini Rahasia-

Dan suatu ketika aku mencintai seseorang yang kerap kali bertemu di ujung jalan sana.

Menunggunya ketika aku tak mendapatinya. Dan tersenyum ketika aku melihatnya berjalan.

Melihat punggungnya, melihatnya memakai kemeja, sepatu nike yg senantiasa dipakai, dan tatanan rambut yg membuatnya terlihat sedikit lebih muda. Aku suka seperti ini, seperti penguntit. Melihat kebiasaannya, kesukaannya, apapun itu. Aku suka saat aku menyukainya.

Semakin lama perasaan ini tak terkendali. Semacam cinta buta, tapi tidak. Dia begitu istimewa.
Tapi aku bisa apa? Aku tak bisa dan tak mau mengungkapkan padanya. Bahkan mengenalnya pun aku tidak. Menatap matanya pun aku tak berani. Perasaan ini rahasia, perasaan ini istimewa. Aku hanya sanggup mengucapkan lewat syair malam. Aku hanya sanggup mengucapkan dengan si Pencipta perasaan. “karena mendoakan adalah cara mencintai paling rahasia”