0

Hanya Sepenggal Serpihan Cerita

Aku akan berhenti mengeluh karena cemburu. Mengeluh karena waktu untukku kurang, dan mengeluh karena keinginanku diacuhkan.
Jika tangisku tidak mampu mumbuatmu mengerti. Maka diamku akan membuatmu paham.
Aku masih ada, aku masih bisa bertahan tapi aku akan diam.
Sampai kamu akan mengerti betapa sulitnya seorang wanita melupakan setiap luka yg membuatnya sakit..

Source: Lupa Sumber

0

Mungkin Aku Masih Ingin Seperti Ini

Iya, mungkin aku ingin seperti ini. Duduk diantara bangku taman yang kosong. Memandang jauh ke depan sana. Hanya diam dan memandangi titik jauh itu. Sesekali mengganti lagu di handphone.

Pandanganku semakin lama semakin kabur. Mungkin karena aku terlalu lelah memandang. Akhirnya ku putuskan untuk berkeliling taman. Kulihat sekeliling, ada yang sendiri, ada yang bersama keluarga, ada pula yang berdua. Aku mulai memalingkan muka melihat mereka yang hanya berdua. Antara iri, lelah, sedih, bercampur aduk menjadi satu.

Aku tak tau apa yang akan aku lakukan. Menghindarimu mungkin bukan cara yang baik. Tapi aku lelah. Mungkin aku sudah terbiasa sendiri dengan kesibukanku sendiri. Dan suatu saat aku pasti akan merindukan “kita”.

Tapi saat ini aku hanya ingin sendiri.. Menikmati setiap detik dengan kesendirian. Maaf..

0

Tulisan Ini Tentang Kita

Aku hanya ingin didengar walau tak sempat saling melihat..

Aku dan kamu duduk diantara jarak yang panjang. Menikmati pagi di tempat yang berbeda. Menikmati seduhan kopi buatan sendiri. Menikmati secercah cahaya kecil dari matahari. Pagi ini mendung, tertutup awan abu abu. Tapi kamu bilang di sana cerah. Aku tak peduli.

Aku akan menapakkan kakiku di sebuah kota kecil nan rapi. Dengan banyak pohon disepanjang jalan. Dan kamu akan menjejakkan kakimu di sebuah kota yang ramai dengan banyak kendaraan berlalu lalang juga banyak rambu dijalan.

Katamu disana menyenangkan, kataku disini lebih menyenangkan. Katamu disana banyak hiburan, kataku disini nyaman. Katamu disana indah, kataku disini istimewa.

Jarak memberi kita banyak ruang. Jarak memberi kita banyak perbedaan. Jarak memberi kita banyak pilihan. Jarak memberi kita waktu sendiri. Tentang aktivitas, tentang kebiasaan dan tentang cinta.

Kamu yang disibukkan dunia kerja, dan aku yang disibukkan tugas kuliah. Yang kita butuh hanya saling percaya.

Semakin lama kita berjarak, semakin banyak kepercayaan yang terkikis. Perlahan larut dan hilang. Semakin lama kamu tak mempercayaiku dengan sejuta pertanyaan dan makian di telepon genggamku.

Jarak yang awalnya membuatku banyak ruang, semakin lama menjadi kecil dan sempit. Tak tahu harus bagaimana aku bergerak dan bernafas dengan baik. Aku sudah tak punya jawaban atas pertanyaanmu, karna memang hanya itu jawabanku.

Kamu minta berakhir, aku bilang tak mau. Aku ingin memperbaiki, mungkin aku yang salah. Tapi setelah dijalani, semua berbeda. Sekarang aku yang tak mempercayaimu. Bukan karena seseorang, tapi karna kamu sendiri. Mengingat makianmu yang membuat aku benar benar sakit hati. Aku hanya takut jika kamu menjadikan hubungan kita sebagai taruhan, pelampiasan dan balas dendam. Aku tak tahu harus bagaimana. Kepercayaanku mulai luntur.. Pernahkah kamu melihatku berubah menjadi yang kamu inginkan?

Aku hanya ingin didengar walau tak sempat saling melihat..

Aku tak tahu bagaimana hubungan kita dimasa mendatang. Mungkin ada kalanya saat mendengar namamu aku bahagia, dan ada kalanya mendengar namamu aku biasa saja.
Ada kalanya ucapan sayangmu membuatku tersenyum dan ada kalanya ucapanmu membuatku diam.

Tak tahu bagaimana di masa depan, apa kita masih bersama atau tidak. Aku hanya ingin berjalan sesuai keinginan Tuhan. Entah Tuhan menginginkan kita menjalin cerita bersama atau tidak. Entah Tuhan menulis kisah kita di lembar yang sama atau di lembar yang berbeda. Entah Tuhan menginginkan kita tetap tersenyum dengan keadaan yang sama atau keadaan yang lebih baik.

Quote
0

Jika kau cinta, maukah kau berjuang untukku?
Jika kau cinta, maukah kau membuatku mempercayaimu?
Jika kau cinta, maukah kau meyakinkanku?

0

Jalan Cinta-

Ada kalanya aku berada di jalan setapak kecil dan sempit. Ada kalanya aku berada dijalan lebar dan ramai orang berlalu lalang dan penuh rintangan. Ada kalanya aku berada di jalan yang nyaman untuk dijalani. Dan ada kalanya aku berada di persimpangan jalan.

Hidup tak semudah menjentikkan kuku. Banyak yang dihadapi, banyak yang diperhatikan, banyak yang memuji, banyak pula yang mencaci.

Hidup tak seindah gunung merbabu. Dari jauh terlihat indah, dari dekat penuh bebatuan. Kebanyakan orang, terlihat bahagia diluar tapi meronta didalam. Tentang perasaan, tentang cinta.

Terkadang, aku tak bisa membedakan seseorang yang benar mencintaiku dengan seseorang yang hanya sementara.
Terkadang, seseorang yang mencintaiku adalah seseorang yang tak mengatakan cintanya karena dia takut aku akan memberi jarak dengannya sampai suatu saat dia pergi dan aku baru menyadari bahwa aku kehilangan cinta yang tak pernah aku sadari.

Dan suatu ketika, saat aku berada di persimpangan jalan, yang aku ingin hanya menemukan titik temu. Untuk melihatmu dan untuk sekedar bertegur sapa. Diantara pilihan, aku ingin mengikutimu sampai pada titik jalan lemahmu. Aku ingin menolongmu sampai ujung jalan yang ingin kamu capai. Disisi lain, aku ingin kita berada di jalan yang berbeda untuk suatu saat dipertemukan lagi dengan keadaan yang lebih baik.

9

-Ini Tentang Malam dan Ini Tentang Kamu-

Malam ini mengingatkanku pada malam saat aku bertemu denganmu

Aku suka berjalan sendiri dikeramaian. Melihat banyak orang dengan kebiasaan dan tingkah mereka. Yang pergi berdua maupun yang beramai-ramai.

Aku ingin seperti mereka, berjalan beriringan dengan seseorang yang mereka cintai. Bergandengan tangan, bercerita sepanjang jalan dan menikmati ramainya kota dengan lampu lampu yang indah.

Tapi malam ini aku sendiri, dan selalu sendiri. Aku tak punya seseorang yang spesial sampai suatu ketika aku bertemu dengan lelaki yang membuatku terdiam lama menatapnya.

Jauh di ujung jalan sana, sendiri. Menikmati makanan yang baru saja dia beli. Menghabiskan beberapa tusuk baso bakar sambil menikmati angin malam.

Aku berada di tempat yang indah, dekat dengan danau yang di modif menjadi tempat bercengkerama. Aahh, dia masih membuatku terpana. Bahkan aku jadi tak menikmati indahnya kota hanya karena dia. Dia lebih indah.

Sesekali dia menoleh ke arahku. Sepertinya dia tau bahwa aku orang yang dari tadi menatapnya.

Aku tak ingin berbicara dengannya, hanya melihatnya saja aku sudah senang. Aku tak punya nyali untuk menatapnya.

Tapi kemudian dia berjalan kearahku. Ingin rasanya aku berlari dan bersembunyi. Aku tak sanggup menahan detak ini. Aku tak tau harus bersikap bagaimana, harus memasang wajah seperti apa. Aku bingung.

Sesekali aku melihatnya memastikan sampai mana dia berjalan. Tapi tak lama kemudian, ada seseorang yang menghampirinya dan menggandeng tangannya dari belakang. Cantik.

Saat itu hatiku yang tadinya berdegup kencang tiba-tiba tersendat dengan nafasku yang tersendat pula. Aku menghela nafas panjang. Entahlah.

Aku melihatnya sekali lagi, dia terlihat bahagia bersama seseorang di sampingnya. Dia mengusap rambutnya, menyibaknya kesamping.

Sudahlah, dia hanyalah masa laluku. Dan aku tak ingin mengusiknya dan mengingatkannya dengan sejuta kebodohan yang telah aku perbuat saat itu. Aku bodoh telah memiliki dia yang sempurna, dan aku lebih bodoh karena aku menyakitinya.

Lebih baik aku pergi dari tempat ini. Aku tak sanggup melihatnya. Aku berjalan ringan. Aku tak menatap sekitar, yang aku lihat hanya jalan yang aku tapaki. Malam ini terlalu indah untuk aku pandang berkali kali. Aku menatap langit, penuh lampion berterbangan. Mengingatkanku pada setiap kenangan manis.

Aku berhenti. Dan tersenyum kecil. Malam ini indah karena telah kudapati kamu bahagia, walaupun bukan bersamaku..