Ini Cerita Tentang Saat Itu

Hai kamu teman SMP-ku, bagaimana kabarmu? Sudah lama aku tak melihatmu. Mungkin hampir 4,5 tahun aku tak berbicara denganmu. Aku hanya bisa melihatmu dari foto-foto jejaring sosial saja. Dari update-an statusmu. Dan kadang itu menggelikan hahaha.

Sudahkah kamu menyadari aku menyukaimu? Mungkin sudah ya. Lagipula itu juga kejadian jaman SMP, masih polos – polosnya soal cinta. Pernahkah kamu menyadari aku begitu bahagia hidup di SMP. Dengan melihat kamu saja itu sudah cukup membuatku tersenyum. Dikejauhan, tanpa ada orang yang tahu aku sedang bahagia melihatmu.

Waktu kelas 1 SMP, kita memang tak sekelas. Tapi walaupun tak sekelas, aku masih bisa melihatmu dan menunggumu lewat depan kelasku. Menurutku itu asik. Waktu kelas 2, kita sekelas. Dan itu membuatku sangat sangat sangat bahagia. Yaaaa, walaupun kamu tak mengenaliku, walaupun kamu cuek, walaupun kamu sudah pacaran sama temen sekelas juga. Itu tak masalah untukku, aku masih menyukaimu. Entah sampai kapan. Waktu kelas 3, kita sekelas lagiiiiii hahahahahahaha. Disitulah aku mulai dekat denganmu. Kamu mendekatiku, melihatku dengan tatapan hangatmu, bercanda, cerita ini-itu, tertawa bersama. Dan semuamuamuanya yang membuat aku bahagia menghabiskan waktuku di SMP.

Aku ingat ketika kamu tiba – tiba duduk di sebelahku, waktu kamu mengejekku, cara kamu membuatku tersenyum, waktu kamu menyanyikan lagu “tentang kita – peterpan”, aku ingat semua tentang kamu! Waktu kamu cerita tentang keluargamu. ayah ibumu cerai, dan kamu diasuh nenekmu. Nggak lama kemudian nenekmu meninggal, akhirnya kamu hidup sama om kamu. Aku ingat itu.. ingatkah kamu ketika kita bermain kasti, bermain basket, kamu berusaha untuk melindungiku dari bola. Ingatkah juga kamu ketika kamu merangkulku, menenangkan aku ketika pengumuman kelulusan. Yang aku rasa hanya ketenangan. Ya, ketenangan. Tahukah kamu? Ketika kelulusan, aku ingin memberikan sebuah buku diary yang aku tulis setiap hari dan itu semua tentang kamu. Tapi, aku urungkan niatku. Aku tak mau dengan buku itu, kamu malah menjauh dariku. Kan aku tak tahu sebenarnya kamu menyukaiku atau tidak. Jika aku tau perasaanmu, aku bisa menentukan untuk memberikan buku itu atau aku akan meninggalkanmu.. penantian yang tak berujung

Tapi, jika aku jadi memberikan buku itu padamu, mungkin aku orang terbodoh yang kamu kenang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s