Ketika Seorang Ibu Dilecehkan

Pernahkah Ibumu dilecehkan? Pernahkah Ibumu dicaci? Ibuku pernah, dan aku sangat marah.

Dari dulu aku memang berada diposisi yang di asingkan. Orang tua ku lebih terbuka, dan lebih suka berkomunikasi dengan kedua kakakku. Aku tidak terlalu masalah dengan itu. Lagipula aku lebih suka di kamar. Tapi, karena alasan itu aku jadi suka pergi bersama temanku sampai larut. Ya, mereka melarangku. Mereka memarahiku karena aku pulang larut, tapi ketika aku berbicara, “aku tak punya alasan untuk terus berada di rumah, untuk apa? Lagipula tak ada yang mengajakku berbicara.”. Mereka hanya diam. Kadang ketika mereka benar-benar marah karena ucapanku, aku tak boleh masuk ke rumah. Terpaksa aku harus memanjat ke lantai 2 seperti pencuri, kalau tidak ya aku tidur di luar.

Banyak yang membuatku tak nyaman di rumah. Sehingga membuatku ingin melakukan hal yang have fun. Dulu aku tak terlalu memikirkan dampak buruk pada hal yang aku lakukan itu. Aku berandalan. Bermain bersama anak punk, ngamen, panas-panasan, merokok. Tapi aku masih beruntung, anak-anak punk itu tidak mencekoki aku dengan alkohol dan pil. Sekalipun mereka ingin pesta, aku selalu diantar pulang dulu. Mereka tak ingin membawaku terjun dalam jurang candu. Mereka sangat baik padaku. Jika sudah waktunya makan siang, uang hasil ngamen dikumpulkan jd satu. Kita membeli makan dengan uang seadanya, dan dari beberapa bungkus makanan kita jadikan satu. Rasanya nikmat makan bersama-sama walaupun cuman berlauk tempe, tahu, sayur dan sambal. Aku selalu tertawa bersama mereka. Aku bahagia karna aku punya kehidupan sendiri selain dengan keluargaku di rumah.

Sebenarnya ada satu hal yang membuatku berfikir dua kali untuk meninggalkan rumah. Nenekku. Aku sangat sayang padanya. Dari kecil aku di rawat nenekku. Orang tuaku terlalu sibuk dengan kerjaannya. Hanya nenekku yang selalu ada untukku. Beliau selalu membuatkanku sarapan, memberiku uang saku, menungguku di depan rumah ketika aku pulang telat, menungguku untuk makan siang bersama. Semuanya serba nenekku. Jika aku mau pergi, aku selalu berpamitan dengan nenekku. Ibuku? Tak pernah. Apalagi ayahku. Dan ibuku selalu marah jika aku pergi tak berpamitan dengannya. Ibuku selalu tak terima jika aku terlalu dekat dengan nenek. Lalu? Maunya apa? Tapi gara-gara itu, nenekku jd sering kena marah, bukan hanya karna ulahku melainkan kesalahkan ibuku sendiri tpi menyalahkan nenekku. Sampai suatu ketika aku memergoki ibukku memarahi nenekku sampai menangis. Karna merasa kasihan dg nenek, aku harus membelanya. Aku memarahi ibuku. Aku mambanting semua yg ada didekatku. Dan aku tak peduli, sangat tak peduli saat ibuku menangis. Memang, aku sama dengan ibuku, memarahi orang yg lebih tua. Tapi aku punya alasan kenapa aku marah. Ibuku? Nothing.

Suatu hari saat aku kelas 3 SMA, nenekku mulai mengeluh badan sakit-sakitan. Kaki bengkak. Aku tak paham nenekku sakit apa. Akhirnya aku meminta ayahku mengantarkan ke dokter. Pulang-pulang, ayahku membawa obat banyak dan besar-besar. Aku lupa nenekku sakit apa. Hari pertama minum obat masih biasa, hari kedua nenekku dikasur terus tak ada tenaga untuk berdiri. Hari.ketiga nenekku tak mau makan. Aku membujuknya, tapi tak mempan. Akhirnya aku meminta ayahku untuk dibawa ke rumah sakit. Yang bikin emosi, pelayanan rumah sakit tersebut sangat buruk. Hari keempat aku menjenguk nenekku malam hari. Ayahku membacakan yassin, ibuku pun berdoa disamping ayahku. Aku yg baru datang, rasanya ingin menangis. Aku meminta maaf pada nenekku, antara sadar setengah sadar nenekku menjawab, “iya”. Aku menangis. Nenekku pun ikut menangis. Hari kelima, salah satu temanku ingin menjenguk nenekku di rumah sakit. Aku menyarankan sore saja. Tak lama setelah aku sms itu ke temanku, tiba-tiba ada tlp masuk dr ibu. Mengabarkan kalau nenek sudah meninggal. Antara percaya dan tidak percaya. Tp ini memang terjadi. Badanku lemas, tak tau harus bagaimana.

Sejak nenekku meninggal, ibuku jd diam. Tak banyak marah. Tapi dia masih cerewet. Ah, aku masih tak peduli dengannya. Dan sejak nenekku meninggal, aku semakin hanyut dalam kehidupanku sendiri. Bersama teman-temanku. Kerjaannya nongkrong. Sekolah jadi malas-malasan. Memang, kerjaanku les ini les itu. Tapi aku tak mengerti. Dan saat try out tiba, tau kah berapa nilai yg aku dapat? 1,00. Aku dipanggil guruku, diintrogasi kenapa bisa dpt nilai segitu. Aku hanya diam. Pernah juga, nilai rapot semester 5 ku jeblok. Aku dapat rangking 36 dari 40siswa. Aku tertawa. Dan aku masih tak peduli. Tapi nenekku sudah berpesan padaku, “belajar yg rajin biar lulus dpt nilai bagus. Daftar di Undip biar pulangnya gampang”. Jd dari situ aku niat sekolah lagi.

Saat sedang pusing-pusingnya belajar, ada salah satu anak yang kos di rumahku berkata,
“mana ibumu? Lagi pergi ya?”
Akupun menjawab, “iya mbak, bentar lagi juga pulang. Kenapa?”
“ohh bentar lagi ya? Yahh siap-siap denger ocehan burung beo lagi dong ya. Telingaku butuh istirahat lebih lama. Bisa nggak ibumu suruh pergi yang lama? Biar nggak bikin budeg”
“ha?”
“iya, ibumu kan cerewet. Anak kosan sini juga pada ngeluh. Kasih tau deh ke ibumu biar ga banyak bacot”
“maksudnya?”
“jangan sok nggak tau deh, ibumu itu tidak lebih dari ibu ibu cerewet nggak penting”
Mendengar perkataannya, aku semakin emosi. Aku melempar HPku pas ke mukanya. Dia hanya meraung kesakitan.

Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu berada diposisiku? Apa kamu akan membiarkannya menjelek-jelekan ibumu? Atau kamu kamu akan membela ibumu yang sudah membuat hidupmu tak nyaman?

Aku membela ibuku, walaupun banyak pikiran kelakuan buruk ibuku terbesit dibenakku. Dia tetap ibuku. Jadi aku berkata,
“hahaha ibumu tak lebih baik dari ibuku”
“tau apa kamu soal ibuku?!”
“tau lah. Anaknya begini, ibunya juga nggak beda jauh. Hahaha”
“anjing ya kamu!!”
“jangan sok ngatain deh kalo nggak mau dikatain”
Aku yang tadinya duduk, akhirnya berdiri menghampirinya. Menjambak rambutnya dan berkata, “pergi dari rumahku. Jangan pernah kesini lagi. Njing”
Mengambil HPku dan pergi meninggalkannya dan sekerumun anak kos lainnya. Entah, mereka berbicara apa tentangku. Aku tak peduli. Yang pasti, aku jadi pemberontak pertama jika ada yang menjelek-jelekkan keluargaku. Tak peduli orang itu siapa. Orang yang lebih tua dariku pun akan ku lawan jika memang membuatku tersinggung.

Sejak kejadian ini, orang tuaku jadi care terhadapku. Aku memang tak terlalu berharap bakal ber-ending seperti ini. Tapi, fine~ yang penting hidupku sudah mulai tercukupi hahahahaha.

-R-

6 thoughts on “Ketika Seorang Ibu Dilecehkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s