Sudahkah Anda Bersyukur?

098918700_1419064168-eclipsoluna1

Suasana pagi itu begitu ramai. Berkumpul di pusat keramaian, menanti gerhana itu datang. Menunggu gelap, bersiap pesta menyambut fenomena sekali seumur hidup. Ada yang membawa anak, sanak saudara, bahkan teman dekat, bersiap dengan kamera ponsel mengabadikan momen yang ditunggu-tunggu.

Ketika gerhana itu datang, orang-orang mulai ramai berbicara. Berdecak kagum dan antusias melihat gelap di pagi hari. Mereka mulai mengeluarkan sesuatu dari saku, ada yang kecil dan ada juga yang besar. Semua orang begitu bahagia, melihat kegelapan total di pagi hari.

30 menit berlalu. Mereka sudah mulai kehabisan gaya untuk foto. Langit masih gelap. Sebagian orang sudah memasukkan ponsel kedalam saku.

2 jam berlalu. Kebisingan itu mulai berkurang, tidak seperti dua jam lalu. Ada yang memilih mencari sarapan, ada juga yang berjalan menikmati jajanan.

3 jam berlalu. Orang-orang mulai bertanya, mengapa matahari tak kunjung muncul? Mereka mulai membuka ponselnya, mencari berita, sambil menikmati sisa jajanan di keramaian kota. Sebagian orang mulai pulang, melanjutkan aktivitas.

10 jam berlalu. Matahari tak kunjung datang. Fenomena aneh yang tidak sesuai prediksi ini menjadi headline berita. Beragam spekulasi bermunculan. Dari ki joki pinter, ki kosumo, sampai ki ayi juga ambil bagian, intinya sama, “ini fenomena aneh”.

Sudah petang, tetap gelap. Masjid jadi ramai, bahkan marbot masjid harus menyediakan karpet tambahan. Digelarlah pengajian dadakan.

Sampai malam tiba, orang-orang berharap cemas. Ada yang tidak bisa tidur, ada yang tidak ingin tidur, menunggu fajar datang menyambut pagi.

Pagi yang dinanti itu tiba. Matahari itu tak kunjung nampak. Ahli-ahli di dunia mulai membuat studi, menerka-nerka apa yang terjadi.

Orang-orang mulai menangis, takut, karena matahari tak kembali. Yang ketika matahari pergi, mereka menyambutnya riang gembira.

Suasana jadi tidak stabil, tempat ibadah langsung disesaki umat manusia, orang kaya jadi dermawan. Lembaga amal, panti sosial, rumah zakat kebanjiran sumbangan. Orang-orang miskin jadi kenyang, anak jalanan diadopsi, pengemis dipekerjakan.

Gencatan senjata terjadi dimana-mana. Isral menyatakan damai dengan Palestina, Korea Utara menghentikan proyek Nuklir, Turki-Rusia membuat nota perdamaian, ISIS mulai buat pengajian dadakan. Dunia damai, tentram, bersatu.

Tempo hari ritual terus dilakukan. Tidak ada yang debat agama, debat kitab, atau mempertanyakan tuhan. Mereka bersatu, meminta matahari pada tuhannya masing-masing. Tidak adalagi hate-speech di sosial media, semua rukun, bersatu meminta matahari.

Sampai tiba pada hari ke-7. Kali ini ada yang berbeda. Ditengah isak tangis orang berdoa menunggu fajar tiba, ditengah ritual-ritual umat meminta matahari, mulai terjadi sedikit keajaiban. Matahari itu muncul. Ada yang menyambutnya dengan tangis haru, tangis bahagia. Tapi ada juga yang menangis sejadi-jadinya, karena matahari itu terbit dari ufuk yang berbeda.

Sudahkah anda bersyukur?

source: Ahmadin Syahputra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s