Jika Hanya Diam

4ef57687eecfca3bcbc6139dcff5e0c0

Sepanjang malam aku tak memejamkan kedua mataku. Berharap ada pesan darimu memberi kabar atau sekedar mengucapkan “night. have a nice dream”. Mungkin karena aku wanita, rasa khawatirku terlalu besar.

Sepanjang malam aku hanya terdiam memandangi handphone dan sesekali mendengarkan musik yang mengingatkanku tentangmu. Dan sepanjang malam pula tak ku dapati kamu menghubungiku sampai akhirnya aku terlelap hingga pagi. Perasaan khawatir, dan penasaran menyelimutiku. Apa susahnya menghubungiku? Untuk setidaknya mengucapkan selamat pagi? Akhirnya aku menghubungimu lebih dulu. Entah nantinya ada balasan maupun tidak, setidaknya aku sudah menghubungimu.

Terkadang aku berfikir, aku seperti terlalu mengejarmu. atau memang seperti itukah? Aku belajar untuk selalu bersikap seolah tak ada apa-apa. Aku belajar untuk selalu berfikir positif tentangmu saat kamu sama sekali tak menghubungiku. Saat itu aku hanya ingin mengingat kenangan indah kita saat bersama-sama. Namun semakin lama ku coba cari kenangan indah lebih dalam lagi, kenangan itu sudah mulai perlahan memudar. Aku tak bisa menemukannya lagi. yang difikiranku hanya pikiran-pikiran negatif. Semakin dalam ketakutanku, semakin membuat hatiku sakit. Aku hanya butuh kamu berbicara. Katakan aktivitasmu. Aku sudah tak ingin merengek lagi. Jadi tolong lihat aku, aku butuh kamu bercerita. Yang kamu katakan justru, “apa perlu aku tulis semua aktivitasku seharian ini?” atau “kau tak percaya padaku?”

Entah sejak kapan aku jadi seperti ini. Seolah kesibukanmu diselingi dengan candaan seseorang lain. Aku tak rela jika harus melihatmu tertawa dengan seseorang itu. Bukankah harusnya aku yang berada dihadapanmu saat kamu tertawa?

Pernah sesekali aku berfikir, bagian mana yang harus aku percaya darimu. Dengan hasil chat “seperti itu” kepada wanita lain. Bahkan saat aku didepanmu, kamu asyik bercanda dengan seseorang disampingmu, dan entah sengaja atau tidak dia menyentuhmu.

Aku sudah tak ingin banyak bicara. Tolong pahami aku dengan baik. Kenali aku dengan baik pula. Jika aku hanya diam, apa kamu akan mengerti?

Jika kamu masih tak mengerti, aku baik-baik saja..

.

.

.

.

.

.

.

.

Hanya hatiku yang berantakan.

 

2 thoughts on “Jika Hanya Diam

  1. Seseorang says:

    Seharusnya setiap laki-laki menyadari kalau hal yg jauh lbh penting dari “Memiliki” adalah “Membahagiakan”. Ya karna kebanyakan laki-laki ketika sudah berhasil Memiliki seseorg yg dia cintai, dia lupa untuk selalu berusaha membahagiakannya sesibuk apapun dirinya saat itu. Ya! Karna laki-laki itu pemimpin, bukanya makmum yg ada di belakang. Jadi, dia yg seharusnya memulai duluan untuk membahagiakan, selayaknya ketika shalat dia yang seharusnya memulai duluan bacaannya.

    • aku percaya dia mencintai, hanya saja dari cara dia bersikap, dia belum memikirkan orang lain. bahkan pasangannya sendiri. sebenarnya aku sudah tak mau merengek, sebab jika dia mengabulkan permintaanku pasti keadaannya jadi aneh karena tidak dengan tulus melainkan disuruh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s