Gallery

Ironi Pelangi di Indonesia

Cerita Assa

5c9e6093fae06a61fcc2fb2f68d47ff4 Salah satu statement pendukung LGBT.

Oleh : Assa Dullah Rouf, Mahasiswa Strata Satu Univ. Al-Azhar, Kairo.
Dipresentasikan untuk kajian ISLAMMU Mesir, 4 Maret 2016

Diawal tahun 2016 disaat sedang enak-enaknya menyiapkan diri merancang perencanaan hidup ditahun ini tiba-tiba kita digemparkan (emang bom apa? :D) dengan sebuah isu baru yang menyeruak di bumi pertiwi Indonesia, ya dan itu adalah permasalahan pelegalan LGBT di Indonesia. Saya tidak terlalu tahu mengenai hal ini kenapa bisa menjadi sebuah viral di Indonesia, dengar-dengar kabar karena seorang Perdana Menteri di Luxemburg (Luxemburg juga telah mensahkan LGBT dinegaranya), Xavier Bettel yang mengakui dirinya sebagai penyukai sesama jenis, wallahua’lam. Bisa dibaca di sini

Ngomong-ngomong masalah LGBT di Indonesia, yang notabene masyarakatnya beragama Islam pastilah menolak dengan yang namanya isu LGBT. LGBT adalah empat huruf awalan dari Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender. Jadi jelas, dengan mendengar dua kata diawal saja para pembaca sudah dibuat muntah darah…

View original post 1,311 more words

Advertisements

KITA

6051fe5fae90d368eb75da2b743dbb5c

terkadang aku hanya butuh rindu untuk selalu mengingatmu. kadang aku hanya butuh kau merindukanku untuk aku merasa tak diabaikan.

tak perlu kau bersusah karena aku selalu ada. disetiap apa yang kau butuhkan, kapan, atau apapun itu. tak perlu kau merasa sepi, saat kau ada banyak waktu, aku siap untuk menemanimu.

tentang mana pula yang kau tak indahkan saat semua yang indah nyaris tak berarti apa apa. tentang yang harus kita mengerti hanya jadi kekosongan.

saat apa yang kau tanyakan “apa yang kau tak mengerti, bahkan semua kau ketahui”. bukan itu. aku hanya ingin kita saling bercakap bukan aku yang mencari tau. hanya ingin kita banyak bercerita bukan aku yang banyak bertanya. hanya ingin kita menjadi pasangan yang menyenangkan bukan yang selalu bermasalah.

mungkin selama ini aku banyak meminta. yang kau tak bisa lakukan menjadi sesuatu yang harus kau lakukan. aku hanya ingin kita baik baik saja. jika aku diam dan membuatmu merasa lebih baik, akan aku lakukan.

jika kau jenuh, mungkin aku satu satunya orang yang merasa pilu.

Hanya Sebuah Handphone dan Media Sosial

Dunia itu luas. Jangan kau persempit menjadi sebuah layar kecil, handphone.

Setiap pasangan pasti melakukan kontak melalui handphone. Apalagi untuk jaman sekarang, handphone sangat penting. Semua orang mulai terbius oleh kecanggihan aplikasinya. Bahkan untuk mengetahui keadaan seseorang, kita hanya perlu melihat status di timelinenya. Dalam jangka waktu hanya beberapa menit saja kita sudah tau kabar seseorang tanpa harus menunggu sebuah pertemuan, kita bisa tau dengan siapa dia bersanding, lebih mudah mengetahui perselingkuhan, semua serba mudah.

Untukku, handphone merupakan suatu keharusan. Setiap detik mengecek, seolah ada yang menghubungi-nyatanya tidak. Aku lebih suka membaca berita, dan menunggu kabar seseorang.

Kabar seseorang? Iya. Seseorang yang selalu ku tunggu, dan kuharap dia menghubungiku. Seseorang yang penting untukku. Seolah tidak ingin ku lewatkan hari tanpanya. Tapi entah dengan apa yang dia rasakan. Hati seseorang siapa yang tau? Yang kubisa hanya mengecek apa yang dia lakukan saat dia tak bersamaku. Dengan handphone dan media sosial.

Mungkin aku yang terlalu mendewakan media sosial membuatku susah menemukan teman baru untuk bermain keluar. Lebih membuatku autis hanya dengan sebuah chatting, bukan pertemuan. Mungkin aku yang seperti ini jadi malas melakukan apapun. Dan pada akhirnya aku tak punya kegiatan selain mengotak atik handphone. Karena tak punya kegiatan, aku jadi lebih sering menghubungi pacarku dan membuat pacarku marah.

Suatu ketika, handphone ku rusak, entah apa yang bermasalah. Aku jadi seperti orang gila yang merengek ‘jangan rusak’. Tak punya uang untuk servise, lengkaplah sudah. Untungnya aku punya handphone 2, tapi sayangnya yang satu hanya bisa untuk sms. Seperti ada yang kurang memang, tak bisa membuka instagram, bbm, line, wasap dll.

Pada fase yang benar-benar jenuh, aku mengajak temanku keluar, nongkrong-kegiatan yang dulu rutin ku lakukan tiap malam minggunya. Cerita sana sini, curhat tentang apapun, semua terasa menyenangkan. Tiba-tiba temanku berkata,

‘haha untuk apa kau bersedih hanya karena handphone. Memang rasanya ada yang kurang, tapi kan kau masih bisa sms. Apa yang harus dipusingkan, toh datamu juga di memori eksternal. Sudahlah, dunia luas, men. Jangan dipusingkan karena tak bisa asik-asikan dengan media sosial. Kau  mau jadi anak hits yang tidak lepas dari medsos? Cek-in sana sini, upload ini itu, bikin status gonta ganti dp. Alaaaah.. santai laaah.. Jangan persempit duniamu menjadi sebuah layar kecil, handphone. Lebih baik kau pergi kemanapun kau mau, lakukan sesuatu yang membuatku senang. Memangnya di akhirat nanti kau akan ditanya, ‘seberapa hits kau di dunia’? tidak kan….’

Perkataan temanku membuatku berfikir ulang. Hidup ini indah, kenapa aku tak mengindahkan duniaku untuk menjelajah manapun dan apapun yang kumau? hanya dengan medsos, sejenak duniaku terlihat kecil.