Untitle-

“Untuk menyiksaku kau tak perlu belati. “aku mencintaimu” katamu selirih angin menepi. Suara itu..teduhnya perlahan menguliti. Bahkan karenanya aku bisa benar-benar bunuh diri.”

-Judhit-

Rintik mulai menyapa pagi. Basah bercampur embun dedaunan. Sesekali ku tengok jendela kamarku menikmati dingin. Kabut menyelimuti semesta dengan pekatnya. Pandanganku hanya berjarak 5 meter saja saat ku lihat dunia. 

Aku masih setia dengan kasurku. Sesekali ku pandangi langit-langit kamar. Wajahmu terukir manis disana. Tapi tidak untuk kisahnya. Aku, kau hancurkan dengan begitu ganas. 

Ketika aku hanya memikirkanmu, aku tak tau kau memikirkanku juga atau tidak.

“Kalian sering kepikir nggak sih sebenernya kalian ga tau apa apa tentang pasangan kalian. Kalian gatau perasaan dia, kalian ga tau apa yg dia pikirin sampai lagu yg dia dengerin pun kalian gatau kenapa dia suka lagu itu. Entah karena dia benar benar suka atau ada kenangan di balik lagu itu.”

Aku benar benar tidak tau. Tapi, sayang.. Hati yg kuberikan padamu bukan main-main. Ketika kita mulai tidak sepadan, mungkin aku benar mati sakit sendiri dan kemudian bunuh diri. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s