Kau, Dunia yang Pernah Kujamah

Pagi mulai menampakkan sinarnya dan menembus masuk melalui jendela. Padahal baru tiga jam yang lalu aku baru memejamkan mata. Kupandangi langit langit bekas tampias hujan kemarin senja. Mengingat kau, meradang pilu atas kepergianmu.

Benar kata orang, cinta bisa membuatmu tidak ingin makan, sulit tidur, yang tadinya cerah menjadi tiba-tiba mendung. Melakukan apapun jadi tidak nafsu. Hanya duduk diam menikmati secangkir kopi seakan hanya itu obat penenang. Dan seolah tak ingin memejamkan mata, karena memejamkan mata membuat bayangnya semakin nyata.

Aku bangun, mengusap mataku kemudian mencuci muka yang licin bekas tangisan semalam. Aku menatap wajahku di kaca, lama. “apa yang sudah kulakukan? Apa yang sudah ku perbuat hingga akhirnya begini? Kenapa aku melakukannya. Sampai membuatku sakit sendiri. Bodoh! Benar-benar bodoh!” Pertanyaan yang sama selalu berputar di otakku. Menyesali langkah yang sudah ku ambil. Aku menjambak rambutku. Aku memukul kaca di depanku berkali-kali, seolah aku muak dengan wajahku sendiri. Aku benci diriku sendiri. “AKU BENCI!!” 

Dan,  PRANG! 

Remuk sudah, berdarahlah. Hancur sudah. Aku ingin bunuh diri bersama penyesalan yang bertubi-tubi. 

Aku gila. Gila karenamu. Gila sebab aku menyia-nyiakanmu. Aku sudah gila, kenapa dulu aku tak bisa melihat kesungguhanmu. Dan aku menyesal membuangmu, menyingkirkanmu. Mencacimu dengan sungguh. Meninggalkanmu yang sudah sabar menungguku. Aku gila. Aku terlanjur gila.. 

Kali ini aku berjalan di balkon lantai dua. Menikmati rokok yang sudah hampir habis satu bungkus. Kopi yang ku buat sampai belum tersentuh. Aku menyilakan kakiku dan pandanganku ada dijalan depan rumah. Melihat lalu lalang orang-orang yang sibuk. Sesekali bergeser tempat karena panasnya sudah menyentuh tubuhku. Puntung rokok dimana-mana dan ah, aku merebahkan tubuhku di selasar balkon. Melihat awan biru cerah. Telunjukku mulai mengukir namamu di awan-awan sana. L a r a s… Kemudian ku acak-acak kembali tulisanku. 

Laras, perempuan yang sudah menemaniku hampir tiga tahun. Periang yang suka bikin aneh-aneh. Kadang semaunya sendiri iseng tak jelas. Dia suka menulis, bercerita, dan menggambar. Perempuan yang suka memakai jaket jeans, bahkan sangat suka memakai sepatu kets. Aku suka segala sesuatu tentangnya. Dia menarik. Dan, dia sangat menyayangiku. 

Tapi tanpa aku sadari, dia berubah menjadi pemurung, pendiam, bahkan kita jarang bisa bercanda. Kemudian membuatku sangat bosan dengan keadaan yang sama di tiap harinya. Pertanyaan yang sama pula, “sedang apa? Lagi dimana?” aku muak. Dan sikapmu berubah menjadi seperti anak kecil, suka merengek. Sedang aku tak suka perempuan seperti itu. Sampai tiba saatnya aku melakukan hal konyol yang membuatmu pergi tak kembali lagi.. 

Semua salahku, Laras. Sebab aku dulu terlalu pemarah. Sampai membuatmu takut untuk mengajakku bercanda. Maaf aku egois, tidak memperhatikanmu setulus hati. Maaf selama tiga tahun ini aku tidak mengenalmu dengan baik. Laras, aku menyesal.. Bencikah kau denganku? Maafkan aku.. 

Maaf aku mengacuhkanmu sedalam-dalamnya. Bisakah kita kembali? 

Ditulis berdasarkan curhatan teman sebaya. Semarang, 19 Mei 2017.