Teruntuk Kau, Perempuan

Selamat malam menjelang pagi, perempuan. Apa kabar? Maaf, aku tak mampu mengucapkan perkenalan awal kita bersua. Aku tak mengenalmu dengan cara yg benar. Tp dulu kau pernah masuk di kehidupanku di antara celah. Di Semarang sedang dingin, disana bagaimana? Jangan sakit, jangan minum mixagrip. Semoga kau sehat-sehat saja.

Sesore ini aku perlahan mengingat kembali bulan Februari. Saat-saat yg membuatku menepis tangis. Ketika sudah tidak sanggup untuk bangun dan berlari. Tak sanggup untuk menerima kenyataan kisah yg pahit. Yg bisa aku lakukan hanya mencaci maki diriku sendiri. Aku benci..

Hai, perempuan. Tulisan ini untukmu. 

Kau, perempuan yg mungkin masih menunggu dijemput. Yg mungkin masih merindu. Bahkan mungkin masih memikirkan dia seperti candu. Aku minta maaf untuk hal yg membuatmu sakit. Aku memisahkan hati yg mungkin akan mulai terakit. Aku minta maaf. Tapi denganmu, aku berterimakasih. Kehadiranmu membuatku belajar banyak hal. Dan membuatku mengerti apa yg selama ini tak sanggup aku pahami. Aku berterimakasih untukmu, perempuan. Karenamu, aku jadi mengingat diriku dimasa lalu. Katanya, kau mirip denganku saat awal pertemuanku dengannya, dulu, tahun 2014. Karenamu, aku belajar bersabar, berjuang, bahkan sampai dititik terpurukku, aku masih sanggup berkata, “aku tidak apa apa. Semua baik-baik saja”. Aku mencoba untuk menghiraukan semua tingkah. Tp aku kalah. Semua terlihat jelas dimataku. Aku tidak tau apa yg kau rasakan. Yang mungkin aku bisa mengerti adalah kau tidak bisa mengontrol perasaanmu sendiri. Kita semua salah, tapi kau tidak seharusnya lakukan itu padaku. Jangan katakan “tidak” tapi nyatanya “iya”. Dan kau tak perlu mencaci temanku. Caci saja aku. Katakan saja didepanku. Aku tidak peduli. Jika aku ingin, sudah ku maki kau lebih dulu. Tapi semua tidak ada gunanya. 

 Aku mencoba untuk tidak membenci siapapun. Bahkan denganmu yg sudah jelas-jelas membuatku sangat terpuruk dengan kata-kata yg kau ucapkan kala itu. Tapi, semua pertemuan tidak ada yg bisa disengaja bukan? Oleh karena itu, aku tidak mau menyalahkan siapapun. Karena berkat kehadiranmu pula aku belajar menjadi sosok yg lebih kuat dari sebelumnya. Terimakasih, semoga kelak kita bisa bertemu. 

Semarang, 22 Maret 2017, 22:46

Entah, khayalanku masih sama seperti 2 tahun lalu. Masih berharap hari itu datang. Saat aku berharap kamu tau perasaanku. Saat aku berharap kamu membalasnya dan saat perjuangan itu dimulai.

Aku terlalu berharap pada hal yang tidak seharusnya aku harapkan. Mengharapkan aku bisa bersamamu.

Seharusnya aku tak berkhayal seperti itu dengan posisimu yg sudah dimiliki dia. Kamu terlihat bahagia bersamanya. Aku bisa apa?

Seharusnya aku bisa bahagia melihat kamu tersenyum bersamanya, tapi nyatanya tidak. Senyummu bersamanya seperti kebahagiaanku yg dibunuh. Aku hampir tak bisa membedakan arti air mataku. Menyesal ataukah ketidakterimaanku. Entahlah.

Aku selalu berkhayal tentangmu. Tentang kamu yang selalu ada untukku, menikmati sunset dan sunrise bersama di rumah idaman. Makan bersama, menikmati hari hari bersama, tertawa bersama. Menghapus air mataku. Selalu ada bahu untuk bersandar. Selalu ada kamu yang bersedia menggendongku saat aku lelah berjalan. Menghapus ice cream di tanganku. Menyibak rambutku dan menaruhnya dibelakang telingaku. SEMUA.

Dan tersadar, ternyata hanya khayalan yg tak akan jadi nyata. Kamu, dengan semua duniamu, tak akan pernah ada aku dibagian bahagiamu.