Menghilanglah!

Aku ingin menjelma langit biru

Tapi kau menggangguku dengan menjelma awan mendung

Aku ingin menjelma jemari yang terikat rapi

Tapi kau menggangguku dengan menjelma gergaji

Bisakah kau tak menggangguku?

Menyingkirlah. Menyerahlah!

Aku membencimu, sangat benci.

Sudah berkali – kali aku, kau acuhkan

Dan sekarang kau usik sesuka hatimu?

HAH! Mengingatmu saja sudah membuatku ingin asu-asu-kan kamu!

Advertisements

Keping

Untuk langit biru, bisakah kau bawakan kresek hitam berisi kepingan perasaan?

Di dalamnya ada kepingan kepercayaan.

Semalam ku pikir bisa merakitnya kembali setelah berulang kali jatuh.

Ternyata setelah kulihat, ia sudah jadi bubuk.

Sudah, buang saja.

Aku sudah pakai kacamata, tak akan kelilipan.

Untuk Mereka (Tuan dan Puan yang Sedang Asik Tertawa)

Adalah kau, yang hadir dengan sebungkus luka

Adalah aku, yang bodoh mempercayai(mu)

Seutuhnya.

 

Sebab aku adalah rupa

yang datang berbagai warna

Sebab aku adalah jemari,

yang harusnya kau rengkuh sangat angkuh

 

Wahai awan berubah kelabu,

dengan mataku yang semakin sayu

Tuan, raga kita memang bersama,

namun tentang hati? Siapa yang mampu menyangka?

 

 

Sebab aku adalah warna,

yang biru semakin mengabu

Sedang ia adalah permata,

yang merah semakin menyala.

 

Sebab aku kau tusuk belati,

sedang Ia semakin sejati

Sebab aku adalah pilu,

ulah si pemberi tak tahu malu.

.

.

Dalam aku yang berharap; untuk segera bertemu dengan Puan. dan aku yang berharap sang Tuan sedang bersamanya.

Dalam; aku yang bosan menjadi orang baik, dan aku yang ingin menampar Tuan dan Puan yang sedang asik tertawa.

Kau Sebut Apa Dirimu?  

Kau berada pada sebuah kotak dengan ia dan kau sebagai tokoh utama. Yang biasa kau sebut dengan ruang. 

Cerita yang menghiasi setiap pertemuan. Tawa yang kadang tak mampu dibungkam. Rindu yang selalu tersebar di setiap dindingnya. Tak mengapa, ia hanya sedang ingin mengingat perihal bahagia. 

Namun, nyatanya berbeda. Ia tak lagi rasakan yang sama. Ia menangis di siku ruang melihat kau diam tak mampu berkata. Sesekali kau memeluk, ia pun jua, saking cintanya. Pesan – pesan singkat yang ia lihat di handphone mu, ia rasakan seperti pisau menancap di jantung dan paru. 

Kau, cobalah melihat ia yang tak pernah mengeluh dengan sikapmu padanya. Cobalah melihat betapa ia ingin diperlakukan sama. Cobalah sedikit saja melihat ia yang tak pernah mau meninggalkanmu. Sudah banyak yang dilalui, cobalah untuk sedikit menghargai. 

Kau tak pernah beri ia secercah jalan kecil menujumu. Semua pintu tertutup, dan ia hanya bisa menunggu. Atau kalau mau, ia sudah merusak pintu pintu itu. Tapi ia tak melakukan, takut kau tak nyaman. 

Sudah banyak malam ia ratapi sendirian. Dan kau satu satunya yang dikhayalkan. Mirisnya, kau tak memikirkannya. Kau sibuk dengan dunia fana bersama sosial media. 

Sudah banyak pagi yg ia lewatkan tanpa ucapan pemula hari. Ia menunggu membisu. Sampai di penghujung hari kau masih saja tak menghubungi.

Kau sebut apa ia? Ia menyebutmu cinta. Lantas, coba jelaskan padanya. Bagaimana hidup mu jika ia sudah tak ada? 

Kau sebut apa ia? Ia menyebutmu istimewa. Lantas, coba jelaskan mengapa kau membuatnya terluka. 

Kau justru sebut ia pengusik, tak asik. 

Ia tak pergi, ia masih saja percaya kau akan berbalik arah padanya nanti. 
Jangan sia siakan orang yg peduli denganmu, jangan sampai kau sadar saat bayangnya terlanjur memudar. 
Kini, bersama puan lain ada ia disetiap alinea kata. Tentang tak pantasnya ia bersanding denganmu. Tentang laku yg tak berlaku. 

Kini, kau tak lebih dari penjahat yang terlanjur mengisi hati tentang bagaimana nyamannya mati. 

Sungguh ia tak bisa mati tuk kedua kali. 

Lantas, kau sebut apa dirimu? 

Untukmu, Tuan Pemarah

Ini untukmu Tuan, aku bersyukur bertemu denganmu, aku bersyukur kita pernah sama sama berjuang. Untuk 2014-2017 ini, aku merasakan hal yg sangat luar biasa, bagiku. Entah bagimu. Aku merasa jadi orang yg sangat beruntung. Aku merasa menjadi tuan putrimu yg selalu kau sanjung. Dan di tiap kali kau tanyakan, “kenapa kau begitu mencintaiku?”. Jawabku tetap sama, “aku tidak tahu.” Yang aku rasa, denganmu aku merasa cukup. Dan yang aku tau, didepan nanti masih banyak liku. Dan harapan bersatu akan sedikit tergoncang dengan waktu. “aku sayang kamu, kamu sayang aku. Terapkan saja seperti itu.” katamu. Kita hanya perlu menjaga, bukan?

Tuan, saat kau bertanya, “mengapa selalu ingin bertemu denganku?” dan aku hanya bisu, percayalah didalam hatiku sudah menjawab malu-malu. Tuan, aku akan menjawab, “aku akan menghabiskan sela waktuku untukmu. Selama aku sanggup, selama aku mampu. Aku hanya perempuan yang selalu dipeluk rindu, Tuan. Dan juga, seperti yang kau pahami, jodoh hanya Tuhan menghendaki. Jadi, jika kita tidak, dan kejadian pahitnya adalah kita sudah, setidaknya aku sudah menikmati setiap jamnya bersamamu, meski hanya 24jam dalam satu minggu! Aku sudah puas karena aku sudah melakukan yang ku mampu. 

Dan ketika kau berkata, “jangan terlalu mencintaiku.” Benar memang kita tidak dibolehkan mencintai berlebihan pada sesama makhluk. Tapi, kenapa kau membuatku selalu jatuh-jatuh dan jatuh hati padamu. Aku hanya wanita yang hanya mampu mencintaimu, Tuanku.  Ijinkan aku untuk tetap berharap, suatu hari nanti meski tak ada yg menjamini, aku masih ingin kita ikati sampai umur tak muda lagi. Terimakasih, untuk waktu yg kita lalui bersama. Jangan ada kata “tapi” untuk menyayangku. Dan untukmu, Tuan Pemarah, jangan hanya sekedar singgah. 

Semarang, 27/03/17, 19.01

Teruntuk Kau, Perempuan

Selamat malam menjelang pagi, perempuan. Apa kabar? Maaf, aku tak mampu mengucapkan perkenalan awal kita bersua. Aku tak mengenalmu dengan cara yg benar. Tp dulu kau pernah masuk di kehidupanku di antara celah. Di Semarang sedang dingin, disana bagaimana? Jangan sakit, jangan minum mixagrip. Semoga kau sehat-sehat saja.

Sesore ini aku perlahan mengingat kembali bulan Februari. Saat-saat yg membuatku menepis tangis. Ketika sudah tidak sanggup untuk bangun dan berlari. Tak sanggup untuk menerima kenyataan kisah yg pahit. Yg bisa aku lakukan hanya mencaci maki diriku sendiri. Aku benci..

Hai, perempuan. Tulisan ini untukmu. 

Kau, perempuan yg mungkin masih menunggu dijemput. Yg mungkin masih merindu. Bahkan mungkin masih memikirkan dia seperti candu. Aku minta maaf untuk hal yg membuatmu sakit. Aku memisahkan hati yg mungkin akan mulai terakit. Aku minta maaf. Tapi denganmu, aku berterimakasih. Kehadiranmu membuatku belajar banyak hal. Dan membuatku mengerti apa yg selama ini tak sanggup aku pahami. Aku berterimakasih untukmu, perempuan. Karenamu, aku jadi mengingat diriku dimasa lalu. Katanya, kau mirip denganku saat awal pertemuanku dengannya, dulu, tahun 2014. Karenamu, aku belajar bersabar, berjuang, bahkan sampai dititik terpurukku, aku masih sanggup berkata, “aku tidak apa apa. Semua baik-baik saja”. Aku mencoba untuk menghiraukan semua tingkah. Tp aku kalah. Semua terlihat jelas dimataku. Aku tidak tau apa yg kau rasakan. Yang mungkin aku bisa mengerti adalah kau tidak bisa mengontrol perasaanmu sendiri. Kita semua salah, tapi kau tidak seharusnya lakukan itu padaku. Jangan katakan “tidak” tapi nyatanya “iya”. Dan kau tak perlu mencaci temanku. Caci saja aku. Katakan saja didepanku. Aku tidak peduli. Jika aku ingin, sudah ku maki kau lebih dulu. Tapi semua tidak ada gunanya. 

 Aku mencoba untuk tidak membenci siapapun. Bahkan denganmu yg sudah jelas-jelas membuatku sangat terpuruk dengan kata-kata yg kau ucapkan kala itu. Tapi, semua pertemuan tidak ada yg bisa disengaja bukan? Oleh karena itu, aku tidak mau menyalahkan siapapun. Karena berkat kehadiranmu pula aku belajar menjadi sosok yg lebih kuat dari sebelumnya. Terimakasih, semoga kelak kita bisa bertemu. 

Semarang, 22 Maret 2017, 22:46

Berbeda

Untuk hari ini, aku mampu mengetahui kamu.

Ada banyak hal yang tidak mampu aku mengerti darimu. Tentang apapun itu. Ada banyak hal baru setelah kita lama tinggal di kota yang berbeda. Waktu yang kita sisakan untuk berdua hanya sepertiga dari biasanya. Kamu dengan rutinitasmu, aku dengan rutinitasku. Semua berbeda.

Ada banyak orang baru yang hadir dihidupmu, akupun begitu. Sejujurnya aku tidak rela kamu bersama orang-orang yang lebih menyenangkan dariku, atau yang lebih bisa membuatmu tertawa. Yang muncul hanyalah perasaan iri dan takut kamu pergi bersama wanita lain. Kamu terus meyakinkanku saat aku berfikir buruk. Entah kenapa aku jadi tak bisa dengan mudah percaya dengan orang lain termasuk kamu. Di masalalu telah terjadi banyak hal yang membuatku sangat terpuruk.

Aku hanya butuh proses. Dan dalam proses itu yang aku mau, kamu jangan membuat aku berfikir buruk lagi. Tapi kamu gagal. Itu membuatku sangat marah dan bersikap anak kecil. Sampai sekarang.

Namun, saat ini aku tau ketika aku bertanya “sayangkah? sayang aja apa sayang banget?”. Kamu hanya menjawab “sayang aja”. Selama ini aku fikir sayang kita sepadan. Ternyata aku yang terlalu sayang. Sayangmu sebatas sayang. Sayang yang ketika suatu saat kita selesai, kamu akan tetap baik-baik saja, tidak denganku.